Permaianan/Olahraga Tradisional “Obah Owah”

Obah Owah merupakan olahraga tradisi yang muncul dan berkembang di dalam kehidupan masyarakat pedesaan di daerah Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sejarah lahir dan kiprah olahraga tradisional “Obah Owah” di kancah Festival Olahraga Tradisional Tingkat Nasional di Jambi yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga tahun 2018 berhasil menjadi penyaji terbaik ke pertama. Olahraga ini biasa dimainkan oleh para remaja di bulan purnama menjelang panen raya. Obah Owah memiliki nilai filosofis tinggi dan makna yg mendalam dan luhur. Hal ini penting agar bisa sekaligus mengkoreksi adanya filosofi prakmatis “Obah Mamah“ (setiap gerak harus dibayar). Obah bisa dimaknai sebagai gerakan kreatifitas untuk melakuksn inovasi. Sedangkan obah atau inovasi yg dilakukan harus selalu merubah pola pikir (mindset). Inovasi yg disertai perubahan mindset itu disebut revolusi. Dan setiap revolusi pasti disertai dengan merubah tatanan (harus “Ngowahi tatanan”). Itulah makna owah karena setiap revolusi harus disertai ngowahi pranatan. Sehingga permainan ini bisa diwujudkan/dimainkan adanya perubahan (ngowahi) aturan main jika ada kondisi tertentu. Permainan diakhiri dengan kemenangan, bagi yg menang diberi pilala penghargaan (sebagai simbol kehormatan nilai sebuah revolusi). Dan yang kalah diberi makanan (sebagai simbul obah mamah).